Kasih sayang, perasaan yang universal. Adalah saat
kita bertemu mata dengan mata yang jernih, senyum menggemaskan, kaki-kaki
mungil yang lincah. Bertemu hati, dengan kepolosan dan kejujuran. Maka kita selalu bisa merasakan cinta itu mengalir di
dalam hati. Meski berbeda benua dan bahasa. Cinta itu selalu universal.
Showing posts with label cinta. Show all posts
Showing posts with label cinta. Show all posts
Sunday, 7 July 2013
Friday, 31 May 2013
Perasaan yang Terkirim
Bahkan
saat harus sms-an dengan seseorang. Yang ketika menunggu balasan smsnya seperti
ada puluhan spesies bunga mendadak mekar di rongga dadamu. Atau senyum-senyum
misterius yang kau munculkan sendiri tanpa sebab. Maka ada perlunya untuk
berhenti sejenak. Lalu pegang erat-erat hati yang cuma satu itu. Eh pastikan
dulu ya, ia masih ada atau tidak.
Seorang teman lama pernah tiba-tiba menelepon dari
seberang provinsi. Mencurahkan perasaan hatinya, bahwa ia tiba-tiba
menghentikan komunikasinya dengan seseorang. Karena suatu hal yang menurutnya
sangat mengganggu. Mendadak semua nomor ponsel yang bersangkutan dihapus.
Bahkan ‘berpamitan’ terus terang pada seseorang itu, bahwa tidak akan ada lagi
komunikasi di antara mereka. Juga tak lupa tentang alasannya.
Kalau kalian tahu alasannya, bisa kutebak mungkin
yang terlintas adalah ucapan: Ah lebay
banget deh. Atau: Cupu ah, ekstrim
banget tauk. Cuma sms-an doang. Kan
bukan pacaran? Cewek emang rapuh, dikit-dikit gampang geer. Nah, yang
terakhir mungkin benar.
Dan ketahuilah, alasannya tidak sederhana; karena saat ia menekan
tombol Send di ponsel bukan hanya
barisan kata yang terkirim dan sampai ke seberang sana. Detik-detik menunggu balasannya, seperti menunggu
bintang jatuh. Dan saat balasan itu tiba, oh astaga! Hatinya tidak bisa
diselamatkan lagi.
Jika kalian bertanya, apakah ‘seseorang’ itu adalah pujangga masa kini
yang kerap bergombal ria lewat sms dengan lawan jenis? Atau serupa ikhwan
spesies baru yang doyan menebar hikmah bermodus tebar pesona? Maka nyatanya
tidak. Pembicaraan yang mengalir dalam pesan singkat justru sederhana, berawal sepele
pula. Dan karena ‘seseorang’ itu tidak pernah ‘macam-macam’ dalam perkataan dan
perbuatan, jadilah syaitan di kiri dan kanan yang bertindak.
Awalnya berat. Di saat orang lain justru
bersemangat memperjuangkan perasaannya, maka ia sadar. Inilah saatnya berhenti.
Sekuat hati, saat menelponku ia mengaku perjuangannya sudah berumur tiga hari. Dan aku mungkin bukan pendengar yang baik, hanya
tertawa saja mendengarnya. Baru juga tiga
hari hihihi.
Apalah artinya kekaguman sepihak yang membuat hati berubah bak taman bunga. Jika sepanjang waktu hanya melulu 'ia' yang terbayang. Jika mendadak wajahnya terukir di kaca jendela kamar, pintu lemari, lembaran daun jatuh, atau bahkan wajah orang-orang di sekitar kita. Tapi 'ia' hanya menganggap kita sama saja dengan ribuan orang yang ditemuinya setiap hari. Tak berarti.
Apalah artinya kekaguman sepihak yang membuat hati berubah bak taman bunga. Jika sepanjang waktu hanya melulu 'ia' yang terbayang. Jika mendadak wajahnya terukir di kaca jendela kamar, pintu lemari, lembaran daun jatuh, atau bahkan wajah orang-orang di sekitar kita. Tapi 'ia' hanya menganggap kita sama saja dengan ribuan orang yang ditemuinya setiap hari. Tak berarti.
Jutaan perempuan di luar sana akan semakin bahagia
saat hati dan perasaannya terbang melambung tinggi. Sebelum ada kepastian apa-apa, bahkan.
Mereka lupa, semakin tinggi maka akan semakin sakit ketika jatuh. Mereka tak
ingat, sakit dan luka yang dalam berbanding lurus dengan lama penyembuhan.
Labels:
akhwat,
catatan harian,
cinta,
coretcoret,
curhat,
moments
Thursday, 24 January 2013
FICTS: Setelah Tiga Hari
Aku duduk tenang di atas sofa sambil membaca buku. Sebuah kumpulan
cerita pendek karya sahabatku yang baru saja diterbitkan. Aku begitu menikmati
alunan ceritanya. Dunia ‘lain’ sahabatku itu ternyata lebih menarik dari yang
kukira. Di dekatku ada secangkir moccachino panas lengkap dengan taburan
cokelat. Ah malam yang indah.
Tunggu dulu.
Sungguh itu hanya imajinasiku. Yang sebenarnya adalah...
Aku duduk gelisah di atas sofa. Buku yang kupegang belum
samasekali terbaca. Ia hanya untuk menutupi kebingunganku harus berbuat apa.
Sudah satu jam begini. Moccachino itu memang benar ada, karena dialah
pelengkap malam-malamku sebelumnya.
Di sampingku ada makhluk asing yang baru kukenal satu setengah
bulan cepatnya –bukan lamanya. Satu setengah bulan yang lalu bertemu di bus
kota. Seminggu kemudian diperkenalkan Kak Indah –tetangga depan rumahku- lalu
hari-hari selanjutnya berjalan sesuai takdir. Tiga hari yang lalu ia berhadapan
dengan ayah mengucapkan sebuah perjanjian. Perjanjian berat yang membuatku
mendadak harus patuh sepenuhnya pada orang asing ini.
Ya. Dia suamiku. Ah, aku saja masih merasa aneh memanggilnya
begitu. Karena dia pun tak pernah memanggilku dengan sapaan serupa. Canggung?
memang. Kami masih sangat asing. Bahkan dalam masa perkenalan pun tak pernah
ngobrol terlalu jauh. Aaaargghh.. Mendadak aku menyesalinya.
Seperti malam ini. Dia sibuk di depan laptopnya. Menekuni
pekerjaannya sebagai seorang programmer. Entah apa yang dilakukan, aku tidak
tahu. Aku sama sekali tidak andal di bidang yang satu ini. Mau dibilang gaptek
terserahlah. Aku lebih suka baca buku atau menulis. Makhluk asing berkacamata
itu tetap diam. Tidak mengajakku berbicara. Apalagi menanyakan tentang buku
yang kubaca. Rambutnya rapi. Tapi terkadang berantakan juga, sih. Wajahnya
sungguh serius. Ah, kapan dia itu tidak serius? Bangun pagi rautnya sudah
serius. Makan pun cepat tak banyak mengomentari masakanku. Sesekali tersenyum
hanya saat acara walimah. Dan.. datang melamar kerumah ayah juga begitu.
Dia tidak pernah bilang masakanku enak atau tidak. Kurang asin
atau terlalu hambar. Aku juga tidak tahu dia suka cokelat sepertiku atau tidak.
Aku cuma tahu dia sangat cinta dengan komputer dan dunianya. Seperti saat
kuhidangkan moccachino untuknya, dia hanya mengangguk. Aku tidak tahu dia suka
atau tidak. Sampai punyaku habis pun belum disentuhnya.
Kurasa dia juga tidak tahu aku sangat suka tulisan Tere Liye. Aku
suka makan cokelat sejak kecil sampai sering bolak-balik ke dokter gigi. Aku
tidak begitu suka musik. Aku mengoleksi bungkusan cokelat untuk didaur ulang.
Aku terkadang suka mengamatinya saat sedang terlelap. Apalagi suaranya yang
merdu mentartil surah Maryam. Dan aku.. ingin dipanggil dengan panggilan yang
berbeda. Seperti Rasulullah yang memanggil Aisyah dengan Humaira.
Tiba-tiba dia meraih cangkir dan menyeruput. Jangan-jangan dia
tahu apa yang kupikirkan soal moccachino tadi. Moccachino yang mungkin sudah
dingin itu habis sekejap. Lalu mendadak menatapku dalam-dalam. Aku makin salah
tingkah. Secepat kilat menenggelamkan pandangan ke dalam buku.
“Dinda, bacanya dari tadi masih halaman pertama?” Kulirik ia
sedang tersenyum.. manis sekali.
Aku kaget. Pertama, karena dia ternyata menyadari aku yang memang
tidak serius membaca. Kedua, dia memanggilku apa?? Dinda? Namaku Annisa.
24 Januari 2013
menikmati hujan~
Labels:
cinta,
citacerita,
curhat,
favorite,
fictionista,
nikah
Subscribe to:
Posts (Atom)