Saturday, 4 May 2013

FICTS: Konspirasi Semesta


Seberapapun banyaknya buku-buku teori konspirasi yang pernah dilahapnya. Intrik politik, bisnis, permainan kekuasaan, manipulasi tikus-tikus jahat. Baginya semua itu aneh, memuakkan, tapi ia akui kehebatan jalan ceritanya.

Tapi adakah yang lebih hebat dari konspirasi semesta? Matahari sang raksasa galaksi, langit, pohon, bebatuan, awan hujan, bahkan KRL butut yang sudah hampir lengser dari jabatannya itu sungguh tega.

Konspirasi itu dimulai. Dengan skenario sederhana saja. Yang hampir semua orang pernah mengalaminya. Setting terpilih adalah gerbong kereta. Di antara ratusan penumpang, ada sepasang mata bening yang mengamati pemandangan luar kereta. Dan di sudut lain, sepasang mata menahan kantuk. Kelelahan akibat belum tidur sepulang naik gunung dini hari tadi. Si Mata Bening melepas penat sambil menikmati lukisan karut-marut kota. Sesekali menghela napas dalam-dalam mengamati sekumpulan anak jalanan, pengemis lumpuh atau gedung beraksitektur modern tampil dalam satu frame sekaligus. Si Mata Menahan Kantuk kini terpejam sudah. Atas nama imunitas yang harus terjaga kekokohannya. Tak peduli kebisingan ingin mengganggu istirahat singkatnya.

Hingga keesokan pagi konspirasi itu tetaplah berlanjut. Esoknya lagi, lusa, lusanya lagi. Tetap dengan skenario gerbong kereta yang sama, berseberangan namun tidak pernah saling menatap. Apalagi bertegur sapa tanpa alasan. Hei, tentu saja. Gadis itu menjulurkan kain panjang dan tebal keseluruh tubuhnya. Kau pikir dia gadis dengan riasan norak dan tingkah penuh drama yang kau tonton di tayangan layar kaca?

Hitungan hari, pekan bahkan. Matahari sang raksasa galaksi, langit, pohon, bebatuan, awan hujan, bahkan KRL butut yang sudah hampir lengser dari jabatannya itu sungguh masih tega. Sampailah pada waktu yang sudah dituliskan Sang Pembuat Skenario. Awan hujan mendapat perintah menjalankan tugas terbaiknya. Gerimis kini menderas. Si gadis dengan wajah pucat menggigil meratapi hujan dari balik jendela KRL butut. Tubuhnya kian menghangat. Lelaki disudut lain gerbong sudah sedari tadi melepaskan jaketnya tanpa berani melangkah sedikitpun.

Matahari sang raksasa galaksi, langit, pohon, bebatuan, awan hujan, bahkan KRL butut yang sudah hampir lengser dari jabatannya itu juga tahu kalau mereka saling jatuh cinta.

Kecuali mereka sendiri.

Friday, 12 April 2013

Truth


"Ada yang sudah tak ada namun masih setia disebut dalam doa-doa. Ada yang masih ada, namun dianggap sudah tiada."

- Tia Setiawati Priatna

Monday, 8 April 2013

The IT Man

naaah ini dia nih yang lolos audisi buat jadi tokoh "suami berindera keenam" alias IT man nya Dinda hehe
*ga penting banget dah*






Monday, 25 March 2013

The Best Creator

Monday, 18 March 2013

FICTS: Pertemuan Pertama


Malam ini kami duduk di atap rumah. Bukan di atas genting. Rumah sederhana kami yang terletak di lantai dua memang tidak bergenting. Tapi masih ada satu lantai tanpa atap yang bisa kami pakai menjemur pakaian, sarapan, makan malam, menulis, mengerjakan tugas kuliah, hingga mendirikan tenda dan berpura-pura sedang summer camp di Edinburgh. Di atas sini adalah bagian favoritku dari rumah kami. Ada lampu-lampu kecil yang kami atur sedemikian pada jaring-jaring bekas. We’re such recycling lovers.

Oh iya, sejak tadi yang kusebut ‘kami’ adalah aku sendiri, dan Dinda. Buatku, yang hanya mengenal dunia biner ini, jarang betul bisa melihat teleskop dan menggunakannya langsung. Apalagi memilikinya. Dinda, meski ia hanya meminta sebuah cincin sebagai mahar, aku ngotot ingin memberinya ‘sesuatu’ selain sebuah cincin.

Teleskop Celestron pesananku sampai kemarin. Sengaja kuminta dikirim ke kantor agar tak ketahuan. Entah kenapa pilihan itu jatuh pada teleskop. Aku tidak pernah tahu Dinda suka astronomi atau tidak. Tapi waktu ditawari Adit, sahabatku yang sedang kuliah master di Jerman soal Celeston itu aku langsung mengiyakan tanpa pikir panjang.

“Waaah..” mata Dinda berbinar-binar takjub. Matanya yang bulat semakin indah. Salah satu yang kusuka dari dirinya. Cukup lama ber’waah’ mengamati Celestron baru kami, ia kemudian melirikku. Melirik Celestron lagi. Melirikku lagi. Aku tersenyum dan mengangguk. Si mata indah itu ikut mengangguk. Entah dengan bahasa apa kami ‘berbicara’ barusan.

Aku jadi teringat kedua kalinya bertemu bidadari bermata indah ini. Sebuah pertemuan di dalam bus kota. Sederhana dan klise memang. Awalnya aku pun hanya menganggapnya pertemuan biasa. Sama halnya setiap hari bertemu kawan yang sama di kantor, tetangga sebelah yang menyiram bunga, ataupun kondektur bus yang menagih ongkos menumpang. Pagi itu, pukul 07.10 aku mencegat bus kota warna merah. Beruntung dapat bangku kosong deretan ketiga dari depan. Bangku seberang, maksudku bangku samping kiriku yang ada di seberang jalur tengah -jalan penumpang dan kondektur lalu-lalang- juga kosong. Aku duduk bersamaan dengan penumpang baru itu. Gadis berjilbab hijau muda, membawa buket bunga berwarna-warni. Aku melirik sekilas, lalu berpaling ke arah jendela di sisi kanan. Menikmati perjalanan. Lalu turun setelah sampai.

Tapi perjalanan takdir tentu tidak sesederhana pikiran kita saat menjalaninya, bukan?
 Seminggu kemudian, sepulang dari kantor. Kembali naik bus kota warna merah. Kali ini tidak dapat tempat duduk, terpaksa berdiri. Anak kecil berpakaian lusuh naik ke dalam bus. Kukira seorang pengamen, ternyata ia bisu. Hanya mengeluarkan suara tidak begitu jelas. Beberapa penumpang menatap iba, lalu memberi sedikit receh. Beberapa tak segan memberi lembaran. Langkahnya terhenti pada bangku deretan ketiga. Seseorang mengajaknya berbicara. Terkadang jemari tangannya berbentuk simbol-simbol yang tidak semua orang memahaminya.

Bahasa isyarat para tuna rungu maupun tuna wicara. Tak disadari keduanya, aku mengerti pembicaraan singkat itu. Tangan si jilbab biru mengelus kepala anak kecil berpakaian lusuh. Dan hanya menunggu sepersekian detik, wajah anak itu kini terlihat lebih bersemangat.

Terkadang, dalam sebuah perjalanan kita mengira ia yang duduk di seberang sana hanya makhluk yang numpang duduk. Kemudian sama-sama menikmati perjalanan masing-masing. Atau seseorang yang muncul di depan rumah suatu sore hanya lewat permisi. Lalu kita kembali masuk mengunci pintu. Tapi bukankah kita tidak pernah tahu, kapan pertemuan kedua itu tiba?

Dinda mencolekku seenaknya. Lalu menggerakkan tangannya, berkata dalam bahasa isyarat, "Thank’s hadiahnya."

Ya, karena pertemuan pertama adalah saat takdir semua makhluk ciptaanNya dituliskan. Dalam lembaran-lembaran yang terjaga. Penuh kerahasiaan.

Monday, 11 March 2013

Colour of the Sky





Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

image source: here

Sunday, 10 March 2013

Sometimes Life is Hard


make good heart
-penikmathujan-

Fleurs Quote


Bismillah. Pengen mulai lagi. Usaha kecil iseng yang sudah saya mulai waktu kelas 2 Aliyah.
Banyaaak banget pengalaman dari sok belajar bisnis kecil-kecilan ;)
"Belajar satu hal kecil saja, bisa membukakan jalan untuk belajar banyak hal lain yang tak terduga"
@umicitra

Time and Rule


“Wasting time is worse than death because death seperates you from this world whereas wasting time seperates you from Allaah” — Ibn Al Qayyim

Entahlah ada hubungannya atau tidak. Akhir-akhir ini saya terlalu banyak menghabiskan waktu untuk menuruti perasaan. Apa benar waktu bisa menyembuhkan luka?

Dijaga Al Qur'an

Satu hari Al Hasan Al Bashri diajak bicara oleh seseorang, “Si Fulan menjaga hafalan al Quran”. Hasan Al Bashri menjawab, “Bahkan Quran lah yang menjaganya

Syaikh Ibrahim Alfares , berkonsentrasi pada masalah aqidah, madzhab dan aliran kontemporer. Dosen Fakultas Tarbiyah Universitas Malik Saudi Arabia